Mimpi Lima Belas Ribu Rupiah

Mimpi Lima Belas Ribu Rupiah

Kurang lebih setengah tahun sebelum kepergian ayah saya, saya sempat memimpikannya. Tak pernah terpikirkan oleh saya bahwa mimpi tersebut merupakan hitungan mundur baginya. Tak terpikirkan juga untuk menceritakan mimpi saya ini kepada banyak orang, namun setelah mempertimbangkannya kembali, maka saya memutuskan untuk menceritakannya disini. Sebuah mimpi yang sangat saya syukuri hadir kepada saya sehingga saya dapat berbuat yang benar kepada ayah saya disaat-saat terakhirnya.

Lima Belas Ribu Rupiah

Jam menunjukkan pukul 10 malam. Saya yang biasa tidur sekamar dengan ayah saya, terbangun untuk buang air kecil. Jam segitu semua orang dirumah, termasuk saya biasanya sudah terlelap. Ketika saya melewati ruang makan menuju ke kamar kecil, ayah saya keluar dari kamar tidur. Saya menghampiri beliau untuk membantunya berjalan.

Ayah saya yang sudah terkena stroke sejak tahun 2004, walau masih bisa berjalan sendiri namun kondisi fisiknya tidak seperti dulu lagi. Mengingat faktor usianya juga, kondisinya semakin menurun dari tahun ke tahun. Bagian kiri badannya sulit untuk digerakkan, terasa kaku bilangnya, sehingga untuk berjalan kakinya agak sedikit diseret.

“Papa, klo mau kencing didalam saja, kan sudah ada tempolong. Klo kencing diluar takut jatuh,” kataku sambil memegang tangannya.
“Papa cuma mau duduk dulu sebentar,”
“Yaudah, yuk duduk,”
“Papa mau duduk disitu,” sembari menunjuk kursi di meja makan. Saya pun mendudukkannya di kursi itu, kemudian saya menuju ke kamar kecil.

Sejak terkena stroke, ayah sudah tidak bekerja lagi karena secara fisik tidak memungkinkan. Awal terkena stroke beliau masih bisa keluar rumah sendiri, membayar listrik air dan berbelanja ke warung depan tanpa bantuan siapapun. Saya yang waktu itu kelas 2 SMA tidak tahu harus berbuat apa untuknya. Bahkan penyakit stroke itu apa, saya tidak tahu.

Ayahku Ketika Sedang Berjemur dan Berolahraga Pagi
Ayahku Ketika Sedang Berjemur dan Berolahraga Pagi

Kondisi ayah saya semakin memburuk beberapa tahun belakangan ini. Beliau tetap bisa mandi, makan dan melakukan aktifitas biasa lainnya sendiri walaupun untuk pergi ke luar rumah sudah tidak bisa sendirian. Malam hari ketika tidur, terkadang ayah saya mengigau dan bisa keluar kamar tidur sendiri tanpa sadar.

Dengan kepribadiannya yang tertutup, ayah saya tidak banyak bicara soal apa yang ia rasakan. Bahkan ketika dibawa ke dokter, ayah selalu mengatakan bahwa dirinya baik-baik saja, tidak ada yang sakit katanya. Terkadang itu membuat kami sekeluarga bingung dengan apa yang harus kami lakukan.

Di suatu waktu, kami menemukannya terjatuh di lantai dengan darah becucuran dari tangannya, tapi ia bilang tidak apa-apa. Jatuh dengan bibirnya sobek pun, ia bilang tidak apa-apa. Ayah saya sosok yang tidak ingin merepotkan orang lain. Ia mencoba untuk menahan sakitnya itu sendiri dan 14 tahun bukanlah waktu yang sebentar baginya untuk hidup bersama sakitnya itu.

Sekembalinya saya dari kamar kecil, beliau yang sedang duduk di kursi sambil menulis sesuatu di atas meja makan, bertanya kepadaku :

“Besok kamu jadi pergi, Will?”
“Ia pa, besok jadi, aku ada seminar 3 hari,” kataku.
“Didaerah mana sih kamu besok?”
“Di Depok Pa.”
“Papa minta alamat lengkapnya dunk,” katanya sambil memegang pulpen untuk menulis sesuatu dengan sebuah amplop didekat tangannya.

“Oh.. memang papa mau kirim apa?,” sekilas aku melihat logo kantor pos di amplopnya.
“Ini ada sedikit buat Wiwil.”

Sembari melirik kertas kecil yang ayah saya tulis, saya melihat bahwa beliau ingin mengirim uang sebesar lima belas ribu (15.000) rupiah. Dengan nada meremehkan saya pun berkata, “Uang segitu mah Pa habis buat ongkos kirimnya. Langsung kasih ke aku saja, pa.”

Namun ia mengangkat kertas kecil yang ia tulis itu, kemudian berkata :

“Tapi lumayan jumlahnya.”

Kertas kecil yang ayah saya angkat itu ternyata kertas yang sangat panjang tapi terlipat dengan rapi. Terlihat seperti satu kertas saja namun ternyata itu kumpulan kertas yang sangat panjang. Bentuknya seperti buku tabungan. Saya perhatikan bahwa setiap bulannya, ayah selalu menabung sebesar lima belas ribu rupiah dengan total akhir tabungannya berkisar 15 juta rupiah.

Ilustrasi Kertas Panjang Dalam Mimpi Lima Belas Ribu Rupiah
Ilustrasi Kertas Panjang Dalam Mimpi Lima Belas Ribu Rupiah

Saya yang tadinya telah meremehkan ayah saya langsung menangis, berlutut dan memohon maaf kepadanya.

Sambil mengelus kepalaku, ayah berkata ‘tidak apa-apa, kenapa nangis?’. Kemudian saya pun terbangun dari mimpi itu, menyadari papa masih tidur di sebelahku. Ngorok.

Kira-kira setengah tahun setelah mimpi yang terasa sangat nyata ini, 12 Desember 2018, ayah berpulang ke rumah Bapa di surga.

Berbakti Koq Setelah Meninggal?

Jika kamu sependapat dengan saya, mimpi saya ini menunjukkan bahwa kasih orang tua kepada kita itu sungguh luar biasa. Kasih mereka kepada kita itu melebihi pemikiran kita dan terkadang kita meremehkannya. Sesungguhnya kita takkan pernah sanggup untuk membalas kasihnya.

Saya tidak berdiam diri setelah mimpi itu terjadi. Banyak perubahan yang saya lakukan untuk ayah saya. Walau tidak sempurna namun saya memberikan perhatian lebih kepada ayah saya. Saya merasa senang dan puas bisa melakukan sesuatu untuk ayah saya disaat ia masih ada. Kita sudah seharusnya berbakti kepada orang tua kita ketika mereka masih ada.

Melayanimu Adalah Kesempatan yang Diberikan Tuhan Kepadaku
Melayanimu Adalah Kesempatan yang Diberikan Tuhan Kepadaku

Oleh karena itu saya kaget sekali ketika salah seorang saudara ayah saya yang hadir di pemakaman ayah saya mengatakan bahwa, “inilah saat yang tepat (ketika ayah saya sudah tiada) untuk berbakti kepadanya”. Saya sangat tidak sependapat dengan hal ini.

Karena berbakti itu seharusnya ketika orang tersebut masih ada, jangan ketika sudah tiada baru berbakti!

Jika ingin belikan baju, belikanlah ketika ia masih hidup! Jangan ketika sudah di peti mati baru dibelikan baju baru!
Jika ingin memberikan makanan kesukaannya, berikan ketika ia masih sanggup untuk mengunyahnya!
Jika ingin menyeduhkan ia kopi, seduhkanlah ketika ia masih bisa menikmatinya bersamamu!
Jika ingin katakan sayang dan maaf, katakanlah ketika ia masih ada sehingga ia bisa membalas sayang dan maafmu!

Jika ingin berbakti, berbaktilah sekarang, jangan tunggu nanti!

Terima Kasih dan Selamat Jalan Imanuel Simon Setiawan Widjaja

Sebagai seorang katolik, saya percaya bahwa mereka yang telah meninggal, apabila ia sempurna, maka akan langsung pergi bersamaNya. Dan saya sangat yakin ayah saya sudah bersamaNya disana. Tuhan pasti memberikan kebahagiaan yang ayah saya tidak dapatkan disini.

Ayah saya mungkin selama 14 tahun ini mengganggap dirinya sebagai orang yang tidak berguna. Namun sebenarnya ia telah menyadarkan kami untuk berbuat yang benar.

Ketahuan Ngedate Sama Papa
Ketahuan Ngedate Sama Papa

Saya sangat senang bisa menulis cerita ayah saya di blog sederhana ini sehingga perjalanan ayah saya setidaknya bisa menginspirasi mereka yang sedang mempunyai masalah yang hampir sama. Kedepannya mereka akan tahu apa yang harus diperbuat untuk mereka yang sakit ini. Yang mereka butuhkan adalah perhatian, kasih sayang dan kesabaran bukanlah cacian, amarah atau kebencian.

Terima Kasih Imanuel Simon Setiawan Widjaja
Terima Kasih Imanuel Simon Setiawan Widjaja

Terima kasih pa, telah menginspirasi kita semua.



Jangan biarkan rantai informasi ini terputus ditangan anda, sebarkan apabila anda rasa layak untuk disebarkan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *