Melihat Manusia

Melihat Manusia

Dengan hati penuh emosi, saya menghampiri si Om yang sering saya lihat aktif dalam pelayanan gereja. Saat itu ia sedang menyiapkan lilin untuk misa selanjutnya. Dengan nada menahan amarah saya bertanya dimana petugas yang memegang kunci pintu kaca di dekat toilet belakang!

Ok… sebelum terjadi salah paham, lebih baik saya menceritakan kejadiannya dari awal.

20 Menit Sebelumnya

Hari itu hari minggu dan seperti biasa saya mengikuti misa pagi di gereja. Setelah selesai misa, saya melakukan “ritual” rutin, yaitu mengunjungi kamar kecil 🙂

Selesai menunaikan panggilan alam, tidak jauh dari situ, terdapat pintu kaca yang biasa dipakai oleh mereka yang menggunakan kursi roda untuk mengikuti misa. Karena pintu tersebut sebagian besar terbuat dari kaca, maka saya bisa melihat dengan jelas seorang wanita tua yang tidak saya kenal(saya panggil Oma) dengan kursi rodanya hendak ingin masuk.

Pintu Kaca di Gedung BPK Katedral Bogor
Inilah Pintu Kaca yang Saya Maksud

Sontak saya langsung meluncur ingin membukakan pintu tersebut. Namun ternyata pintu tersebut terkunci.

Saya mencoba mencari petugas terdekat namun tidak menemukan seorang pun. Saya menuju ruangan seketariat didepan dan mereka hanya melempar-lempar tanggung jawab. “Coba tanya ke ibu A, coba tanya ke bapak B, bukan disini yang pegang kunci pintu itu”, dan begitu terus jawaban mereka walaupun saya sudah bilang ada orang tua dengan kursi rodanya terjebak didepan pintu kaca tersebut.

Sampai didepan gedung saya bertemu 2 orang petugas yang sebaya dengan saya sedang memegang walkie talkie. Setelah menjelaskan situasinya, mereka langsung bereaksi. Dengan walkie talkienya mereka mencoba menghubungi seseorang. Namun tidak ada jawaban.

“Oh itu mah bukan urusan saya”, jawabnya sambil mengangkat kedua tangannya tanda tidak peduli dan pergi meninggalkan kami.

Ilustrasi Menolak Permohonan Bantuan
Ilustrasi Menolak Permohonan Bantuan.
Sumber Gambar : freepik.com

Saya sampai tidak dapat berkata apa-apa lagi.

Sama seperti Pak tua tadi, saya sendiri juga bukanlah orang yang bisa melihat manusia dengan baik. Seringkali saya tidak peka dengan manusia. Oleh karenanya saya ingin terus belajar dan memohon kepada Tuhan agar dapat melihat manusia dengan lebih baik lagi.

Kemudian salah seorang dari mereka mencoba bertanya kepada kenalannya yang ketika itu lewat didekat kita. Namun ketika ditanya perihal pintu tersebut sontak jawaban dari Pak tua yang mengenakan seragam salah satu organisasi gereja itu membuat saya sangat sedih.

Sudah Terlanjur Emosi

Sibuk mencari kesana kemari, saya kembali mengecek apakah pintu kaca tersebut sudah terbuka atau belum. Saya kaget luar biasa karena si Oma yang ada di kursi roda tersebut telah berada di dalam gedung. Mungkin karena menunggu terlalu lama, si Oma sampai memaksa berjalan(dengan bantuan walinya) dengan susah payah.

Merasa kecewa dengan diri sendiri dan perasaan prihatin dengan si Oma, emosi saya naik. Sayang saya luapkan kepada orang yang tidak tepat.

Saya hampiri si Om yang sering saya lihat melakukan pelayanan untuk gereja. Si Om ini baru saja terlihat di situ dan sedang menyiapkan lilin untuk misa selanjutnya.

Dengan nada menahan marah saya bertanya dimana petugas yang memegang kunci pintu kaca di dekat toilet belakang. “Si oma sampai berjalan dengan susah payah gara-gara pintu tersebut terkunci”, lanjut saya menambahkan.

Untungnya si Om ini menjawab dengan tenang(dan mungkin sedikit bingung) sambil berkata bahwa sudah ada yang mengambil dan sedang dibuka pintunya. Bagaikan ditampar pipinya, malulah diri saya sendiri mendengar ucapan si Om. Pergi dari situ saya pun melihat kembali dan pintu tersebut mulai dibuka.

Tuhan dan Sesama

Saya mengambil banyak pelajaran dari kejadian ini dan saya pun tidak akan pernah lupa dengan Injil Tuhan Yesus yang dibacakan hari itu yang diambil dari Markus 12:28b-34. Ketika seorang ahli Taurat bertanya kepada Yesus :

“Hukum manakah yang paling utama?

Ahli Taurat bertanya  kepada Yesus Hukum Mana Yang Paling Utama
Ahli Taurat bertanya kepada Yesus Hukum Mana Yang Paling Utama
Sumber Gambar : 3.bp.blogspot.com

Jawab Yesus: “Hukum yang terutama ialah: Dengarlah, hai orang Israel, Tuhan Allah kita, Tuhan itu esa.

Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu dan dengan segenap kekuatanmu. Dan hukum yang kedua ialah:

Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri. Tidak ada hukum lain yang lebih utama dari pada kedua hukum ini.”



Jangan biarkan rantai informasi ini terputus ditangan anda, sebarkan apabila anda rasa layak untuk disebarkan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *